Menanam Tanpa Menunggu
Oleh:
Helmi Mawardi, ST
Staf Pengelola UPA Sumber Daya Hayati Hutan Tropika Lembab (SDHHTL)
Universitas Mulawarman
Hutan tidak runtuh dalam sehari. Banjir juga tidak datang tiba tiba. Semua terbentuk dari rangkaian keputusan kecil yang dibiarkan terlalu lama. Satu pohon ditebang. Satu sampah dibuang ke parit. Satu lahan dibiarkan terbuka. Ketika hujan turun lebih lama dan lebih deras, air mencari jalan sendiri. Kita lalu menyebutnya bencana.
Peristiwa banjir bandang di Sumatra seharusnya dibaca sebagai peringatan. Bukan sebagai cerita jauh. Polanya sudah kita kenal. Hutan berkurang. Daerah tangkapan air melemah. Sungai dan drainase tidak lagi mampu menampung debit hujan. Pola yang sama kini berulang di Kalimantan Timur.
Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong bukan lagi kota yang asing dengan banjir. Genangan datang hampir setiap musim hujan. Jalan utama terputus. Permukiman tergenang. Aktivitas warga terganggu. Dalam banyak kasus, air datang bukan karena hujan ekstrem semata, tetapi karena tanah kehilangan kemampuan menyerap.
Kita sering menyalahkan hujan. Padahal hujan hanya mematuhi hukum alam. Yang berubah adalah lanskapnya. Ruang hijau menyempit. Lereng terbuka. Sampah menutup saluran. Sungai membawa lumpur dari hulu. Kota akhirnya menanggung beban dari apa yang terjadi di sekitarnya.
Di tengah kondisi ini, keluhan mudah sekali muncul. Tambang masih berjalan. Pembalakan belum sepenuhnya berhenti. Izin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari warga. Namun mengeluh tidak dapat menahan air. Keluhan tidak memperbaiki tanah. Alam hanya merespons tindakan nyata.
Menanam pohon adalah langkah paling sederhana dan paling masuk akal. Tidak perlu menunggu program besar. Tidak perlu menunggu anggaran. Satu orang cukup satu pohon. Tanam di halaman rumah. Tanam di tepi jalan lingkungan. Tanam di lahan kosong yang masih tersisa. Pohon bekerja dalam diam. Akarnya mengikat tanah. Tajuknya menahan hujan. Daunnya memperlambat aliran air ke permukaan.
Membuang sampah pada tempatnya juga bukan perkara kecil. Sampah yang dibuang ke selokan hari ini akan kembali sebagai genangan esok hari. Drainase kota tidak dirancang untuk menampung plastik. Sungai tidak mampu mencerna limbah rumah tangga. Disiplin sederhana ini menentukan apakah air mengalir tenang atau meluap menyasar rumah.
Tindakan tidak harus menunggu banyak orang. Bergerak sendiri sudah berarti. Bergerak bersama akan lebih terasa. Warga satu RT, sekolah, kelompok pemuda, dan komunitas lokal bisa memulai dari lingkungan terdekat. Satu hari menanam. Satu kesepakatan menjaga. Satu komitmen untuk tidak merusak.
Kalimantan memiliki tradisi yang patut dijaga. Pohon pohon tua diselimuti kain atau sarung. Tindakan ini bukan sekadar simbol adat. Ia adalah bentuk penghormatan. Pohon diperlakukan sebagai penjaga ruang hidup. Tradisi ini mengajarkan batas. Tidak semua pohon boleh ditebang. Tidak semua ruang boleh diambil.
Menghidupkan kembali budaya ini berarti menguatkan etika kita terhadap lingkungan, rumah kita. Pohon tua yang dijaga membantu menahan air dan menstabilkan tanah. Ia menjadi benteng terakhir ketika hutan di sekitarnya terus menyusut.
Kondisi hutan Kalimantan Timur sudah berada pada titik rawan. Tutupan hutan berkurang. Lubang bekas tambang tersebar dimana-mana. Sungai membawa sedimen lebih banyak dari sebelumnya. Jika kita menunggu semua persoalan besar selesai lebih dulu, maka banjir akan terus menjadi agenda rutin tahunan, bahkan bulanan.
Menanam pohon bukan sikap naif. Ia adalah bentuk tanggung jawab warga terhadap ruang hidupnya, ini adalah pernyataan sikap bahwa kita memilih untuk menjaga. Di tengah kebijakan yang lamban dan perubahan cuaca dan alam yang tak menunggumu untuk sadar, tindakan kecil justru menjadi penyangga terakhir.
Air tidak menunggu izin. Ia akan mencari jalannya sendiri. Jika hutan hilang, tak ada lagi yang mengikat tanah dan menahan air, tanah akan mengeras, pemukiman penduduk akan menjadi daerah hunian yang baru bagi air.
Menanam hari ini berarti mengurangi risiko esok hari. Membuang sampah dengan benar berarti menjaga rumah sendiri. Merawat pohon tua berarti menjaga ingatan, menegaskan sikap juga sekaligus simbol bahwa kita memilih hidup selaras dengan alam.
Tidak perlu menunggu sempurna. Mulai dari lingkungan sendiri. Ajak tetangga satu RT. Libatkan sekolah, komunitas pemuda, dan kelompok keagamaan. Buat satu hari tanam. Sepakati satu area yang dijaga bersama. Tanam pohon sesuai kemampuan. Rawat dengan sederhana. Pastikan sampah tidak kembali ke parit dan sungai.
Gerakan kecil yang konsisten akan membentuk kebiasaan baru. Dari kebiasaan lahir budaya. Dari budaya tumbuh daya tahan lingkungan.
Kalimantan Timur membutuhkan lebih banyak warga yang mau bertindak, tak perlu menunggu balok-balok kayu menyasar rumahmu. Jika setiap orang menanam satu pohon dan menjaga satu ruang kecil, kota akan punya waktu untuk bernapas.
Mulai sekarang. Mulai bersama. Satu orang satu pohon. Di mana pun kamu berada.
Semoga Tuhan Memberkati langkah kita.