Hutan Sebagai Berkah atau Kutukan? Sebuah narasi singkat
Universitas Mulawarman menegaskan kembali pentingnya menjaga hutan Kalimantan Timur sebagai benteng utama pencegah bencana lingkungan. Pesan ini menguat dalam obrolan santai program Ngapeh di TVRI Kalimantan Timur yang membahas tema Lestarikan Pohon Lindungi Bumi dari Bencana Lingkungan
Acara ini menghadirkan Susilo Pranoto, S.Hut., M.Si., selaku Kepala Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan Provinsi Kalimantan Timur serta Dr. Ibrahim, pemerhati masalah Kehutanan yang juga menjabat sebagai Kepala Sumber Daya Hayati Hutan Tropika Lembab Universitas Mulawarman. Diskusi mengalir ringan tapi isinya serius dan dalam. Hutan tidak lagi dibahas sebagai latar hijau semata, tetapi sebagai sistem hidup yang menentukan keselamatan manusia.
Susilo Pranoto memaparkan kondisi hutan Kalimantan Timur dengan data terbuka. Dari sekitar 12,6 juta hektar wilayah, sekitar 62 persen masih berhutan. Angka ini berada di atas standar nasional. Kawasan dengan kualitas hutan terbaik berada di Mahakam Ulu dengan tutupan hingga 80 persen. Namun beliau menegaskan angka luas saja tidak cukup. Kualitas hutan harus dijaga. Hutan alam dengan serasah dan struktur alami memiliki fungsi ekologis yang tidak bisa digantikan.
Dr. Ibrahim menajamkan diskusi dengan penjelasan ilmiah yang membumi. Beliau menyebut hutan hujan tropis sebagai sistem yang tidak bisa ditiru oleh sawit atau tanaman monokultur. Serasah hutan seluas satu meter persegi mampu menahan sekitar satu liter air. Jika satu hektar hutan dialih fungsikan, maka sekitar 10 ribu liter air kehilangan ruang resapannya. Dampaknya banjir, longsor, dan kerusakan yang ujungnya kembali ke manusia, lalu kita menyebutnya Bencana.
Beliau dalam paparannya juga menyampaikan anggapan bahwa lahan pascatambang bisa kembali seperti semula. Tanah hutan terbentuk ratusan hingga ribuan tahun. Setelah ditambang, struktur tanah rusak permanen. Reklamasi sering hanya menghasilkan hijau di permukaan, tetapi rapuh di bawah. Satwa pun ikut terdorong keluar habitat. Orangutan yang seharusnya menikmati buah-buahan, terpaksa memakan kambium pohon. Ini menjadi tanda bahwa alam sedang tertekan, menuju sekarat.
Keduanya sepakat bahwa masalah utama bukan hanya teknis, tetapi cara berpikir. Pengejaran ekonomi jangka pendek sering mengalahkan pertimbangan ekologis. Padahal saat alam rusak, ekonomi ikut runtuh. Contoh banjir besar di Sumatera menjadi peringatan nyata. Kalimantan Timur masih relatif aman karena hutan dan danau penyangga, tetapi daya tampung alam ada batasnya.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kehutanan menjalankan rehabilitasi sekitar seribu hektar per tahun, membagikan bibit bernilai ekonomi, serta mendorong perhutanan sosial dan hutan adat. Masyarakat didorong aktif melapor jika melihat aktivitas ilegal. Penyuluh kehutanan hadir hingga tingkat tapak. Namun semua kebijakan ini tidak akan berjalan tanpa dukungan publik.
Diskusi ini juga mengangkat kearifan lokal. Lembo, agroforestri tradisional masyarakat Dayak dan Kutai, menjadi bukti bahwa manusia dan hutan bisa hidup berdampingan. Hutan bagi masyarakat lokal adalah sumber pangan, obat, dan kehidupan. Bukan sekadar komoditas.
Pesan akhirnya sederhana dan terasa dekat. Menjaga hutan bukan tugas satu lembaga. Ini urusan bersama. Jika hutan dijaga, air terjaga, satwa bertahan, dan manusia tidak perlu terus waspada pada bencana. Kalimantan Timur masih punya kesempatan. Pertanyaannya mau dijaga atau mau menunggu alam menegur lebih keras.
Source: Youtube TVRI Kalimantan Timur
/Wisanggeni